Beranda » Culture » Hal Menarik di Balik Kemegahan Pura Besakih

Pura Besakih merupakan tempat persembahyangan umat Hindu yang terletak Bali.Pura ini dinobatkan sebagai pura terbesar di Indonesia karena memiliki lebih dari satu pura dalam satu kawasan.

Sebagian besar masyarakat Bali merupakan masyarakat yang memeluk agama Hindu. Oleh karena itu, tidak heran jika kita bisa dengan mudah menemukan tempat persembahyangan umat Hindu yang disebut Pura.Salah satu tempat persembahyangan umat Hindu di Bali yang terbesar adalah Pura Besakih. Pura ini terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Kemegahan Pura yang menjadi pusat keagamaan umat Bali di Hindu ini bahkan sudah dikenal hingga ke mancanegara. Oleh karena itu, hampir setiap hari banyak turis asing yang berwisata religi di Pura megah tersebut.

Pura Besakih – FB Bimo Pratama

5 Hal Menarik di Balik Kemewahan dan Kemegahan Pura Besakih

Pura Agung Besakih menjadi salah satu tempat wisata pura yang menarik dan sangat populer di Bali. Selain bisa belajar tentang nilai-nilai sejarah dan budaya, wisatawan juga bisa menikmati pesona arsitektur dan keindahan alam di sekitarnya. Oleh karena itu, Pura Besakih wajib Anda kunjungi saat sedang berlibur di Pulau Dewata, Bali. Berikut ini adalah 5 hal menarik di balik kemewahan Pura Agung Besakih :

  1. Pura Agung Besakih menjadi Pura terbesar di Indonesia karena memiliki 1 pusat Pura dan 18 Pura pendamping. Jumlah keseluruhan Pura di kompleks Pura Agung Besakih adalah 22 Pura.
  2. Nama Besakih berasal dari nama Basuki yang artinya ‘Selamat’. Nama tersebut diberikan oleh Rsi Markandeya secara langsung setelah berhasil membabat hutan di Pulau Bali dan Jawa. Basuki sendiri merupakan nama tempat yang dijadikan tempat penanaman kendi, permata, dan sesajen dengan percikan air suci.
  3. Pura Besakih dibangun dengan mengangkat konsep Tri Hita Kirana yang merupakan konsep keseimbangan antara Tuhan, alam, dan manusia.
    Pura Agung Besakih menggambarkan 7 filosofi kehidupan. Diantaranya adalah sistem pengetahuan, organisasi sosial kemasyarakatan, sistem bahasa, kesenian, peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian hidup, serta religi dan upacara.
  4. Pura Agung Besakih menggambarkan 7 filosofi kehidupan. Diantaranya adalah sistem pengetahuan, organisasi sosial kemasyarakatan, sistem bahasa, kesenian, peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian hidup, serta religi dan upacara.
  5. Pura Agung Besakih menjadi tempat yang menarik untuk melakukan penelitian karena memiliki berbagai bukti peninggalan kehidupan purbakala.

Pura Besakih @Ngurah Sandi

Sejarah Singkat Pura Besakih

Pura Besakih memiliki nama lain yaitu Pura Agung Besakih. Pura Agung Besakih menjadi satu-satunya Pura yang terbesar di Indonesia. Hal ini disebabkan karena dalam satu kawasan Pura Agung Besakih tidak hanya terdiri dari satu pura saja, melainkan terdiri dari banyak pura sehingga membuat area kawasan Pura menjadi sangat luas. Pura Agung Besakih terdiri dari satu pusat Pura yang memiliki nama Pura Penataran Agung Besakih. Pusat Pura Penataran Agung Besakih dikelilingi oleh 18 Pura pendamping diantaranya adalah 1 Pura Basukian dan 17 Pura lainnya.

Pernahkah Anda bertanya, siapa yang pertama kali membangun kemegahan Pura Besakih? Berdasarkan sejarah, Pura Agung Besakih dibangun oleh Rsi Markandeya yang merupakan tokoh agama Hindu dari India. Meskipun berasal dari India, namun Rsi Markandeya telah menetap lama di Pulau Jawa.Konon, pada masa itu belum ada Selat Bali, sehingga Pulau Jawa dan Pulau Bali belum terpisah oleh lautan. Karena Pulau Bali dan Pulau Jawa dahulu masih tergabung menjadi satu, maka pulau tersebut menjadi sangat panjang. Oleh karena itu, pulau tersebut diberi nama Pulau Dawa yang artinya Pulau Panjang.

Pura Agung Besakih @km artha susila

Rsi Markandeya diberi julukan Bhatara Giri Rawang oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena Rsi Markandeya memiliki jiwa rohani yang suci, memiliki ilmu batin yang tinggi, serta cakap dan bijaksana. Pada mulanya, Rsi Markandeya memulai pertapaan di Gunung Demulung kemudian berpindah ke Gunung Hyang. Menurut kepercayaan, Gunung Hyang merupakan Gunung Dieng di Jawa Tengah yang kita kenal sekarang (Dieng berasal dari kata Di Hyang). Setelah bertapa dalam waktu yang sangat lama, Rsi Markandeya mendapat wahyu dari Hyang Widhi Wasa agar beliau bersama seluruh pengikutnya merambas hutan di Pulau Dawa dari selatan menuju ke utara.

Setelah berhasil merambas hutan, Rsi Markandeya membagikan tanah secara adil kepada seluruh pengikutnya untuk dijadikan tegal, sawah, dan perumahan. Di tempat awal mulainya perambasan hutan, Rsi Markandeya menanam kendi yang berisi air dan disertai dengan 5 jenis logam suci. Logam suci tersebut diantaranya adalah emas, perak, tembaga, perunggu, dan besi. Kelima logam suci tersebut disebut dengan Panca Datu. Selain menanam kendi, Rsi Markandeya juga menanam permata Mirahadi yang artinya ‘mirah yang utama’.

Pada akhirnya, tempat menanam kendi tersebut diberi nama ‘Basuki’ yang artinya ‘Selamat’. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur karena Rsi Markandeya dan seluruh pengikutnya mendapatkan keselamatan saat membabas hutan di Pulau Dawa. Setelah beberapa waktu, di tempat Basuki mulai didirikan sebuah khayangan atau pura yang disebut Basukian. Dari masa ke masa, mulai didirikan beberapa pura secara bertahap hingga terbentuklah kompleks Pura Besakih yang kita kenal saat ini. Demikian sedikit ulasan mengenai sejarah singkat dari berdirinya Pura Agung Besakih. Semoga bisa menambah wawasan kita tentang nilai-nilai sejarah, seni, dan budaya nusantara Indonesia.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.